Berita

Dinamika Tari Gaya Surakarta Diluar Tembok Keraton

Bangsa Indonesia yang terbentuk sejak 17 Agustus 1945 diwarnai oleh kesatuan adat-istiadat dan seni budaya tradisi yang dari waktu ke waktu terus bergerak dalam dinamika pewarisan kebudayaan. Tradisi sekaligus dapat diterjemahkan sebagai bentuk pewarisan atau penerusan norma-norma, adat-istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta, bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah; tradisi justru dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya : ia menerimanya, menolaknya atau mengubahnya (Santosa SP, 1980:27). Pola pemikiran itu dapat dikatakan sebagai tenaga penggerak...

Selengkapnya →

Masyarakat dan Kebudayaan Indisch di Surakarta 1871-1940

Masyarakat Indisch Surakarta (selanjutnya disebut masyarakat Surakarta) pada paruh kedua abad XIX hingga paruh pertama abad XX merupakan bentuk masyarakat majemuk yang muncul sebagai produk kultural dan politik dari praktik kolonialisme abad XIX dan awal abad XX di Indonesia. Bentuk masyarakat ini didukung terutama oleh kalangan elite, yang berasal dari berbagai etnis mulai dari pribumi Jawa, Eropa, Indo, dan bahkan Timur Asing, terutama Cina dan Arab. Konstruksi ini merupakan bentuk masyarakat sebagaimana dibayangkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui Indische Partij, yaitu masyarakat berupa...

Selengkapnya →

Pertahankan Rumah dan Pekarangan

Prolog: Ruang bagi manusia sangat dibutuhkan pada wilayah kota, manusia bisa bergerak sesuka hatinya dengan memiliki akses kemana arah yang akan dituju, ketika sesama manusia menanyakan beragam kepentingan ruang untuk alasan tempat tinggal, usaha, peribadatan, bermain, proses pembelajaran, atau untuk kemanfaatan infra struktur, kebebasan dalam menentukan sikap dalam wilayah kota harus bisa saling memahami kebutuhan atau kepentingannya, sebagai pengguna ruang wilayah kota, relasi ruang kota adalah berbagai stakeholder yang ada dan bisa menempati wilayah itu, bisa warga setempat, perusahaan...

Selengkapnya →

Kota-kota Beraksara

Buku tak hanya merekam gerak kota, namun juga berkembang dalam kultur kota. Kita ingat, kota tertua di dunia adalah Kota Jbail di Libanon. Kota ini mempunyai nama lain yang sangat khas: Byblos, dalam bahasa Yunani, yang berarti buku. Pada masa kejayaan kebudayaan (filsafat) Yunani, Byblos sudah menjadi kota tua yang sesekali memunculkan buku-buku lawas antik berharga. Tentu saja sekarang Byblos bukan lagi kotapenuh buku. Kota berbuku terus bergerak dari satu pusat kota budaya ke kota budaya lainnya. Pada zaman naskah tulis tangan (pra-Gutenberg), kita mengenal kota-kota yang dihuni...

Selengkapnya →

Solo, Keroncong dan Kenangan #2

Keroncong Setelah kemerdekaan (Periodisasi 1945-1950-a). Perkembangan musik pada penghujung tahun 1945 menghadapi dua hal yang penting dalam perkembangannya. Hal yang pertama adalah lepasnya tekanan terhadap dunia hiburan pada umumnya dan dunia musik pada khususnya, yang selama masa pendudukan Jepang menghadapi tekanan yang sangat besar dari pemerintah Jepang, terutama dunia hiburan yang sangat dipengaruhi oleh gaya barat dengan begitu banyaknya larangan dan batasan-batasan terhadap penciptaan sampai pada pementasannya. Hal yang kedua adalah perkembangan musik yang sangat diwarnai oleh :...

Selengkapnya →

Solo, Keroncong dan Kenangan #1

Perkembangan keroncong sebelum kemerdekaan, Keroncong Pada Masa Kolonial Belanda (1920-1942). Perkembangan musik keroncong di Surakarta mendapat tempat yang Istimewa dan semakin kuat citra Surakarta menguasai keroncong Indonesia (Japi Tambayong, 1992:307). Awal kemunculan musik keroncong berkembang di Ibukota Indonesia, Jakarta. Musik keroncong memang berasal dari Budaya asing tetapi bisa menjadi sepenuhnya musik Indonesia dengan memasukan unsur-unsur kuat dari musik Indonesia asli. Proses “Indonesianisasi” ini membutuhkan waktu ratusan tahun, tapi dlam kasus keroncong,...

Selengkapnya →

16th : Merayakan Kebersamaan

9 Februari 2016: terasa istimewa, sebab Pasoepati telah memasuki setidaknya 16 tahun perjalanan menjadi salah satu kelompok suporter. Ada banyak alasan untuk mensyukuri semua perjalanan yang ada dan telah dilalui, oleh setiap kita yang menggemari bola, mencintai dan mendukung klub di kota Surakarta. Perayaan atas perjalanan tersebutlah yang kemudian dihadirkan oleh teman-teman Pasoepati Campus dengan merilis buku Kota, Klub dan Pasoepati: Satu Dekade Dinamika Kelompok Suporter Surakarta (Devi Fitroh Laily, 2016). Tentu semua dinamika perjalanan panjang Pasoepati tidak dimonopoli oleh...

Selengkapnya →

Dari Kampung Memandang Kota

Tatkala menjelajah halaman demi halaman buku ini, senandung lirih Silampukau remang terngiang: Mentari tinggal terik bara tanpa janji. Kota tumbuh kian asing, kian tak peduli. Dan kita tersisih, di dunia yang ngeri dan tak terpahami ini. Silampukau melalui Balada Harian dan Akhmad Ramdhon lewat Merayakan Negara Mematrikan Tradisi: Narasi Perubahan Kampung-Kota di Surakarta mengungkapkan kegelisahan yang sama. Keduanya mencemaskan pertumbuhan kota dengan caranya masing-masing, satu lewat lagu, yang lain dengan buku. Selain medium, perbedaan lainnya adalah kota yang dikisahkan....

Selengkapnya →