Berita

Merekam Kali Pepe : Selepas Hotel-Kota

Kondisi Kali Pepe diarea ini masuk kawasan yang relatif sudah tertata rapi, hanya ada beberapa bangunan yang berada di sepadan Kali Pepe. Tepatnya 100 meter setelah hotel Pose In sudah mulai beralih fungsi sepadan Kali yang digunakan oleh warga untuk mendirikan bangunan.  Rumah warga tertata rapi disamping badan jalan, dari sepanjang hotel Pose In hingga monumen Ponten ini terbelah menjadi dua kampung. Di sisi kanan ada kampung Ketelan, sedangkan di sisi kiri ada kampung Kestalan. Dengan adanya hotel Pose di sisi timur Kali, membuat Kali Pepe terlihat berbeda dibandingkan daerah...

Selengkapnya →

Karakter Kampung di Goresan Mural

Penyampaian pesan melalui media mural tengah mengejala di berbagai sudut kota. Berikut liputan wartawan Solopos, Nadia Lutoana Mawarni. Laki-laki gondrong yang saban hari menjalankan perahu untuk menyebrangkan orangorang melintasi Bengawan Solo di Kelurahan Sewu, Jebres, Solo itu akrab dipanggil Pakde Bagong oleh masyarakat sekitar. Selama bertahun-tahun, Pakde Bagong menjadi ”jalan pintas” masyarakat yang ingin pulang-pergi MojolabanSolo tanpa memutar lewat Jembatan Mojo, Semanggi, Pasar Kliwon.   Melintasi tanggul pembatas kampung dan Kali Bengawan...

Selengkapnya →

Rudetnya Rumah Deret Tamansari Bandung

Catatan redaksi: Esai ini merupakan peringatan perjuangan satu tahun perlawanan warga RW 11 Tamansari, Bandung, atas proyek tenurial-predatoristik pemkot bernama Rumah Deret (RUDET). Kata ‘rudet’ sendiri memiliki arti dalam Bahasa Sunda, yakni pusing; memusingkan; rumit. Warga benar-benar direpotkan oleh proyek ganjil ini. Perjuangan diawali pada 20 Juni 2017, dan hingga kini perjuangan masih berlangsung. Warga bahu-membahu dengan elemen perjuangan lain seperti kaum miskin kota, warga terdampak-terancam penggusuran di lingkup regional pun nasional; dengan para buruh dan...

Selengkapnya →

City (Kampong) : Rights, Body and Rhythm

Kota lahir melalui pemusatan surplus produksi secara spasial dan sosial, maka ia bekerja sebagai unit spasial yang melayani modal sekaligus sebagai arena (perjuangan) kelas-sosial. Pada titik temu inilah usaha untuk menerjemahkan realitas perkotaan menjadi penting. Menafsirkan ulang cara-cara di mana ruang (kota) telah menjelajahi peta mental orang-orang dan perasaan terdalam mereka tentang tempat-tempat dengan cara menguraikan kartografi baru tentang subjek (perkotaan) melalui proses memetakan koordinat kunci dari makna, identitas dan kekuatan di seluruh situs-ritus tubuh dan kota.Kota...

Selengkapnya →

Solo Diwaktu Malam : Silam #2

Novel lawas, jarang jadi pembicaraan dalam kritik sastra atau sumber kutipan di  penulisan (sejarah) kota. Novel pernah terbit dan mendapatkan pembaca di masa lalu, belum tentu bersambung ke pembaca-pembaca baru berselera bahasa dan imajinasi berlatar Solo masa 1940-an. Konon, cerita itu sempat tampil di panggung sandiwara. Dulu, orang pun mengingat film dibuat oleh perusahaan bernama Borobudur. Pilihan mengingat novel agak memihak ke bahasa di kertas-kertas tanpa kewajiban mencari pembenaran dalam daftar pustaka lagak periset.   Novel itu berjudul Solo Diwaktu Malam...

Selengkapnya →

Solo Diwaktu Malam : Silam #1

Novel lawas, jarang jadi pembicaraan dalam kritik sastra atau sumber kutipan di  penulisan (sejarah) kota. Novel pernah terbit dan mendapatkan pembaca di masa lalu, belum tentu bersambung ke pembaca-pembaca baru berselera bahasa dan imajinasi berlatar Solo masa 1940-an. Konon, cerita itu sempat tampil di panggung sandiwara. Dulu, orang pun mengingat film dibuat oleh perusahaan bernama Borobudur. Pilihan mengingat novel agak memihak ke bahasa di kertas-kertas tanpa kewajiban mencari pembenaran dalam daftar pustaka lagak periset.   Novel itu berjudul Solo Diwaktu Malam...

Selengkapnya →

Solo, Kota Federasi Kampung-Kampung

Solo, sebagai kota, telah berumur 273 tahun. Dihitung dari dipindahkannya ibu kota kerajaan Mataram Islam dari Kartasura ke desa Solo. Desa Solo adalah satu di antara banyak desa di tepi-tepi aliran sungai yang menggurita di tanah lembah Bengawan Solo ini. Desa-desa ini, sejak Solo menjadi kuthagara dan terus berkembang sejajar dengan kota-kota modern lain di Indonesia, teraglomerasi menjadi kampung-kampung perkotaan. Berbeda dengan desa Solo yang sengaja direkayasa menjadi kota, kampung-kampung ini “bertumbuh dengan sendirinya”. Laiknya pohon besar yang berakar dalam...

Selengkapnya →

Kali Ilang Kedhunge

/1/ Tiap kali musim hujan, aku teringat seorang tokoh bernama Ki Wiron Lumut. Dia adalah seorang pertapa-pemikir ekologis di tanah Sala. Dia meninggalkan Kidul Tanggul, desanya yang sering terkena banjir tiap musim hujan. Ki Wiron Lumut memutuskan pergi ke Brang Wetan, untuk bersemedi ekologis, setelah berkali-kali menghadap raja atas banjir yang menimpa desanya tapi tidak pernah ditanggapi. Ki Wiron Lumut memohon agar segera membuat kebijakan ekologis terhadap sungai yang ada di tanah Sala.    Menurut pengatamannya, masa depan permukiman masyarakat, harta...

Selengkapnya →